Kepala Desa Sumber Arum, Purwanto, melalui Sekdes Wartiyah, menyampaikan bahwa pembahasan difokuskan pada tujuh paket layanan pencegahan stunting. Di antaranya adalah pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita dan ibu hamil, khususnya ibu hamil berisiko tinggi. “Untuk yang berisiko tinggi, seperti usia kehamilan yang melebihi batas ideal, akan ada penanganan khusus yang dibiayai dari Dana Desa,” jelas Wartiyah.

Ia menambahkan, angka stunting di Desa Sumber Arung mengalami penurunan dalam satu tahun terakhir. “Tahun lalu ada 11 kasus, sekarang tinggal sembilan,” ujarnya. Selain itu, kegiatan Posyandu juga menjadi pembahasan penting, termasuk rencana pelatihan dan penyuluhan bagi kader di tahun depan yang bekerja sama dengan Puskesmas.

Terkait teknis pemberian PMT, desa sebelumnya sempat mencoba mengantar makanan langsung ke rumah warga, namun dinilai kurang efektif. “Kadang bukan anaknya yang makan. Akhirnya kita ubah, dimasak oleh kader di Posyandu, lalu anak-anak dipanggil untuk makan bersama dan dipantau langsung,” terang ibu Sekdes Wartiyah.

Acara tersebut turut dihadiri berbagai pihak, mulai dari perangkat desa, bidan desa, narasumber dari Puskesmas termasuk tenaga ahli gizi, perwakilan dari Kecamatan Sukaraja, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, serta kader Posyandu dan KPM. Turut hadir pula perwakilan PAUD, kelompok tani, tokoh masyarakat, perwakilan perempuan, hingga Andes desa.

Rembuk Stunting ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif lintas sektor dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di desa. Pemerintah desa menegaskan komitmennya untuk menurunkan angka stunting secara signifikan melalui pendekatan terintegrasi dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat.